Selamat Datang!
Oleh: Alif Lukmanul Hakim, S. Fil
Sekadar Pengantar
Di salah satu sudut Surakarta, ada sebuah jalan bernama Rabindranath Tagore. Tapi sayangnya, penulisan nama pada jalan tersebut menunjukkan kesalahan besar. Tertulis Jalan Rabrin Dranath Tagore, dengan tambahan huruf R pada dan pemenggalan nama antara Rabrin dan Dranath. Fenomena kecil itu menunjukkan korelasi besar. Pertama, betapa pamongpraja yang menulis nama jalan tersebut tidak mengetahui sejarah dan abai pada detil-detil pentingnya. Kedua, betapa besar pengaruh Rabindranath Tagore sehingga namanya dipakai sebagai salah satu nama jalan di kota Surakarta.
Biasanya, nama-nama jalan besar di kota besar, menggunakan nama pahlawan lokal atau nasional. Tapi, untuk jalan yang satu itu, nama Rabindranath Tagore justru dipilih untuk diabadikan sebagai nama jalan. Apa yang membuat namanya sampai mendunia? Dan mengapa penting, nama Tagore diabadikan sedemikian rupa?
Rabindranath Tagore lahir di Bengali pada 7 Mei 1861. “Tagore” adalah sebutan internasional dari kata Thakur. Jadi, ketika seorang penonton film India menyebut nama “Tuan Thakur,” sesungguhnya nama itu mendunia berkat sumbangan Tagore pada manusia. Salah satu sumbangannya adalah ide dan inspirasi pendidikan yang diabadikan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam sekolah Taman Siswa. Ide dasar Taman Siswa sesungguhnya diilhami oleh pusat pendidikan yang di dalamnya Tagore banyak berperan, Santhiniketan, India. Tagore sendiri pernah melawat ke Indonesia, tepatnya ke Surakarta, dan berkawan baik dengan Ki Hadjar Dewantara. Mungkin peristiwa itu yang menjadi salah satu alasan adanya Jalan Rabindranath Tagore di Solo.
Tagore adalah orang Asia pertama yang menerima anugerah hadiah Nobel Sastra dari Akademi Swedia. Pada 1913, saat hadiah itu diberikan, ia tak bisa datang, dan hanya berkirim telegram singkat yang dibacakan di depan khalayak yang begitu penasaran pada dirinya. “Sanjungan saya pada Akademi Swedia yang penuh apresiasi dan pemahaman yang telah membawa kedekatan atas jarak yang terbentang. Dan telah menjadikan seorang asing (seperti saya) sebagai saudara.” (Lihat, www.wikipedia.com)
Begitu susah menyebut identitas Tagore dalam satu kata atau satu definisi saja. Ia seorang brahma, tapi ia juga penyair. Ia seorang filsuf, sekaligus dramawan tradisional yang penuh inspirasi dan kebijakan. Ia seorang musikus dan sastrawan Bengali yang sangat besar. Di India dan Bangladesh, bagi masyarakat Hindu, namanya sudah menjadi seperti nama nabi. Itu semua karena kearifan mendalam yang terdapat di berbagai karya sastranya. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah Gitanyali, yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam banyak versi (Purwantari, 2006: 10).
Ia adalah anak bungsu dari 14 bersaudara. Ayahnya, Debendranath Tagore adalah pemimpin sekte Hindu yang sangat besar dan disegani di Bengali. Saat usianya 11 tahun, sang ayah menyelenggarakan Upayanam, sebuah upacara yang menandakan seorang laki-laki memasuki usia Brahmacari atau masa menuntut ilmu. Setelah itu, bersama sang ayah, Tagore berkeliling India.
Dimensi Ontologis dan Epistemologis Pemikiran Tagore
”Hidup di dunia hanya sekali, cinta sejati hanya sekali, karena mati pun hanya sekali” (kutipan dari salah satu karya Rabindranath Tagore). Ia mengedepankan bahwa individu harus bersatu dengan alam. Tagore berkata; orang banyak berkonsentrasi belajar dari buku dan melupakan utk belajar dari alam bebas yg sebenarnya lebih kaya, alam terkembang jadi guru (Alam sebagai realitas utama – kosmologis atau Tuhan Imanen didalamnya). Hampir sama dengan Gandhi, Tagore meyakini bahwa kebenaran harus digali dan bersumber pada subjek atau pribadi yang otonom. Pembentukan karakter individu yang bebas dan mandiri harus dibentuk melalui sistem pendidikan yang berbasis pada kondisi riil masyarakat dan berbasis pada alam.
Titik Pijak Konsep Pendidikan Tagore
Mereka mengunjungi Santhiniketan, terus ke Amritsar sebelum akhirnya sampai ke Dalhousie di kaki Gunung Himalaya. Perjalanan pada jalan cerita tokoh-tokoh ternama, Seperti Che Guavera atau Mohandas Gandhi, menjadi sangat penting dan menentukan jalan hidup mereka. Perjalanan itu tak saja membuka mata dan pengetahuan, tapi juga pemahaman yang mendalam tentang arti dunia.
Berkelana mempertemukan Rabindranath Tagore dengan Mahatma Gandhi. Keduanya bersahabat menentang British Raj, dan saling bantu membangun Gerakan Kemerdekaan India. Tagore dan Gandhi adalah dua pemimpin besar India yang pemikirannya berpengaruh melebihi batas-batas teritorial sebuah negara. Banyak para intelektual membandingkan dua pemikiran tersebut. Salah satunya adalah Jawaharlal Nehru yang menulis dari dalam penjara Inggris pada 1941 (dalam buku Bulan Sabit; Rabindranath Tagore):
“Gandhi and Tagore. Two types entirely different from each other, and yet both of them typical of India, both in the long line of India’s great men ... It is not so much because of any single virtue but because of the tout ensemble, that I felt that among the world’s great men today Gandhi and Tagore were supreme as human beings. What good fortune for me to have come into close contact with them.”
Kakeknya, Dwarkanath Tagore, adalah seorang ilmuwan terpandang yang menguasai bahasa Arab, juga Parsi. Kombinasi itu pula yang menyumbang kearifan pada Rabindranath muda. Pengetahuan Sansekerta digabung dengan pemahaman Islam yang ditularkan oleh sang kakek, ditambah juga dengan literatur Persia yang kaya filsafat, membuat pemikirannya begitu mendalam dan berpengaruh.
Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi yang juga dari India, pernah memberikan komentar tentang itu. “Pemahaman Rabindranath atas Sanskrit, Hindu Kuno, Islam dan Persia, membuatnya terdorong untuk melahirkan, atau setidaknya menghasilkan sintesis ajaran agama dari agama-agama yang berbeda dari seluruh dunia,” katanya.
Dalam buku-bukunya, yang kurang lebih 200 judul, memang kental terasa suasana yang menjembatani nilai-nilai antaragama di dunia. Terlebih lagi usahanya menciptakan garis penghubung antara Barat dan Timur. Kemanusiaan, bisa jadi adalah “agama” yang dijunjung tinggi oleh Tagore dalam hidupnya. Tak peduli Barat atau Timur, kemana pun wajah dihadapkan, kemanusiaan harus dijunjung luhur.
Seketika membuat saya teringat pada sebuah buku kuno yang ditulis oleh Rabindranath Tagore yang diterjemahkan oleh Mr. Mohammad Yamin, berjudul Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga. Ketika pertama kali diterbitkan oleh Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K Djakarta 1955, harganya hanya Rp. 16,- saja. Tapi isinya sungguh luar biasa. Tokoh-tokoh dalam novel itu bernama Nikhil, Bimala dan Sandip, sebuah cerita tentang pencarian arti cinta.
Di India, Rabindranath Tagore (1861-1941) mendirikan Shanti Niketan, sebagai perlawanan terhadap pendidikan kolonial Inggris yang hanya ingin menciptakan rakyat jajahan yang penurut dan sedikit ‘terpelajar’. Sekolah kolonial pun menjadi alat efektif untuk menyaring orang-orang India berbakat untuk mengisi jajaran birokrasi kolonial. Anak didik dijauhkan dari bahasa dan tradisinya sendiri, dan dipaksa mengikuti disiplin dan cara berpikir kolonial Inggris. Mereka yang lulus dan akhirnya mendukung sistem itu, dikenal dengan sebutan Anglicist, adalah pembela utama sistem kolonial secara keseluruhan, dan menganggap penindasan kolonial sebagai hal yang patut diterima oleh rakyat India yang ‘tak beradab’ (Badru, 2003: 35).
Tagore memulai kegiatannya dalam situasi itu. Baginya rakyat tak punya pilihan lain kecuali mengembalikan kepribadian rakyat India pada akar tradisinya sendiri. Ia membangun proses pendidikan menyeluruh, dimulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi yang bertolak dari pengalaman para siswa. Sementara dalam pendidikan kolonial anak-anak hanya menjadi obyek dari para guru dan pengambil keputusan, di Shanti Niketan anak-anak diberi keleluasaan mengembangkan diri dan berlaku sebagai subyek pendidikan.
Pendidikan Sebagai Gerakan: Kesamaan India – Indonesia Masa Kolonial
Di Indonesia, pendidikan sejak awal dianggap bagian penting dari perjuangan melawan penguasa kolonial. Pikiran itu berkembang setelah timbul kesadaran bahwa kolonialisme mungkin bertahan bukan hanya karena keserakahan dan kejahatan penguasa kolonial, tapi juga karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan rakyat untuk melawan. Sejak akhir abad ke-19 berdiri sekolah-sekolah particulier (swasta) yang diselenggarakan oleh rakyat, karena sistem pendidikan kolonial hanya memberi kesempatan kepada mereka yang mampu dan ‘berguna’.Secara umum penguasa kolonial tak peduli pada nasib pendidikan bumiputra. Para pejabatnya lebih sibuk menyebar intel untuk meredam gerakan nasionalis ketimbang menyalurkan dana untuk pendidikan. Sekolah-sekolah particulier pada awalnya dibiarkan berkembang bebas, dan dipandang sebelah mata saja.
Adalah van der Meulen, direktur pendidikan pemerintah kolonial yang pertama memberi perhatian serius. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Fock, ia menguraikan bahaya dari sekolah particulier yang menyebar nilai-nilai anti-kolonial. Maksudnya tidak lain dari sekolah-sekolah yang dibuka oleh Sarekat Islam pimpinan Tan Malaka dan sekolah-sekolah Tionghoa yang sedang gandrung menyebarkan nilai-nilai gerakan pembebasan di Tiongkok. Sebagai reaksi pada tahun 1921 pemerintah mengumumkan Ordonansi No. 134 yang juga dikenal dengan sebutan Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie). Dalam keputusan itu pemerintah mewajibkan setiap guru untuk melapor dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggarnya (Rickleffs, 1994: 20).
Lima tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan Ordonansi No. 260 yang memerintahkan guru-guru menutup semua ‘sekolah liar’ karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Semua sekolah yang berhaluan nasionalis menjadi sasaran, dan penindasan pun semakin hebat setelah terjadinya pemberontakan rakyat di Jawa dan Sumatera pada tahun 1926-27. Tidak banyak sekolah yang bisa bertahan, dan salah satunya adalah perguruan Taman Siswa, yang didirikan 1922 di Yogyakarta. Sementara kaum terpelajar menjadi sasaran represi dan sekolah-sekolah ditutup, Taman Siswa terus bergerak dan tumbuh menjadi lembaga pendidikan terpenting dalam perjuangan nasionalis. Pimpinannya seorang priyayi, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat – kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara – dikenal sebagai tokoh nasionalis yang tajam (Ibid, hlmn 21).
Menjadi bagian dari pergerakan adalah kunci keberhasilan Taman Siswa. Sementara guru-guru bumiputra yang mengajar di sekolah kolonial menolak dan bahkan mengecamnya, di banyak tempat rakyat justru meminta sekolah itu didirikan. Di tengah represi dan pengawasan intel kolonial, Taman Siswa menggelar konperensi besar pertama tahun 1923. Agenda utamanya adalah menetapkan prinsip dasar dan perluasan organisasi. Perguruan yang semula hanya membuka Kindergarten dan sekolah guru itu pun mulai nampak sebagai sebuah gerak kebudayaan yang merambah di berbagai daerah.
Konsep Pendidikannya
Tagore mendirikan sekolah yg khas, dg metode yg mencerahkan dan memberikan kemandirian pada murid 2 nya. dikenal dg nama Shanti Niketan -- kini menjadi universitas besar di India dengan nama Visva Barathi University) yg artinya tempat tinggal yg damai, sebuah sekolah yg khas dg budaya lokal dan sesuai kebutuhan masyarakat umum saat itu,berbeda dg sekolah2 yg didirikan oleh penjajah Inggris.
Konsep Sekolah Shanti Niketan Tagore cukup sederhana, belajar dg duduk di atas rumput dinaungi pohon yg rindang , tapi pelajaran nya sangat bermakna dan membekas di murid2 nya (saat ini telah diikuti oleh konsep sekolah alam yang kini telah ada di beberapa kota di Indonesia: ciganjur jkt, parung bogor, bandung dan surabaya).
Kurikulum sederhana: diajarkan hal-hal atau keahlian yg sesuai dg keperluan dan kondisi penduduk lokal setempat, dikembangkan berdasar kearifan lokal (local genius), bersahabat dg alam, ketrampilan praktis dll, sehingga mereka yg lulus dari sekolah tsb, benar2 bisa memanfaatkan ilmunya pada kehidupan sehari hari masyarakat setempat (Problem Possing education kalau kita merujuk Paulo Freire). Tagore ingin mengubah Sistem pendidikan kolonial: karena anak rakyat tanah jajahan menjadi ‘manusia beradab’ sesuai ukuran penguasa kolonial. Sebagai perlawanan terhadap pendidikan kolonial Inggris yang hanya ingin menciptakan rakyat jajahan yang penurut dan sedikit ‘terpelajar’.
Tagore gusar melihat sekolah kolonial menjadi alat efektif untuk menyaring orang-orang India berbakat untuk mengisi jajaran birokrasi kolonial. Anak didik dijauhkan dari bahasa dan tradisinya sendiri, dan dipaksa mengikuti disiplin dan cara berpikir kolonial Inggris. Mereka yang lulus dan akhirnya mendukung sistem itu, dikenal dengan sebutan Anglicist, adalah pembela utama sistem kolonial secara keseluruhan, dan menganggap penindasan kolonial sebagai hal yang patut diterima oleh rakyat India yang ‘tak beradab’.
Tagore memulai kegiatannya dalam situasi itu. Baginya rakyat tak punya pilihan lain kecuali mengembalikan kepribadian rakyat India pada akar tradisinya sendiri. Ia membangun proses pendidikan menyeluruh, dimulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi yang bertolak dari pengalaman para siswa. Sementara dalam pendidikan kolonial anak-anak hanya menjadi obyek dari para guru dan pengambil keputusan, di Shanti Niketan anak-anak diberi keleluasaan mengembangkan diri dan berlaku sebagai subyek pendidikan.
Menjadi bagian dari pergerakan adalah kunci keberhasilan Taman Siswa. Sementara guru-guru bumiputra yang mengajar di sekolah kolonial menolak dan bahkan mengecamnya, di banyak tempat rakyat justru meminta sekolah itu didirikan. Di tengah represi dan pengawasan intel kolonial, Taman Siswa menggelar konferensi besar pertama tahun 1923. Agenda utamanya adalah menetapkan prinsip dasar dan perluasan organisasi. Perguruan yang semula hanya membuka Kindergarten dan sekolah guru itu pun mulai nampak sebagai sebuah gerak kebudayaan yang merambah di berbagai daerah (mirip dengan Shanti Niketan Tagore). Shantiniketan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam sistem pelaksanaan pendidikan di Pondok Gontor selain Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Alighar di India.
Penutup
Bagi Tagore:
1. pendidikan adalah sebuah proses membawa seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan jati diri, terlebih jati diri kemanusiaan, karena hakikat dan pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi)
2. Pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang membebaskan manusia untuk selalu sadar akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Sebuah proses pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas sosial, bukan pendidikan yang malah menjauhkan manusia atau peserta didik dari kenyataan hidup yang ada.
3. pendidikan hadap-masalah, merupakan salah satu alternatif agar peserta didik mampu memahami realitas sosial yang senyatanya. Peserta didik akan selalu dibenturkan dengan problem-problem kongkret dan aktual yang ada, untuk selanjutnya berupaya menganalisis menggunakan pisau analisis atau sudut pandang yang sesuai guna ditemukannya pemecahan yang komprehensif.
4. Konsep Pendidikan Tagore ingin memberikan peserta didik bekal untuk memahami kehidupan dan bukan hanya pendidikan yang berorientasi bagi pemenuhan bekal “penghidupan” an sich.
Daftar Pustaka
Badru, Ahmad., 2003, Telaah Kritis Rabindranath Tagore, Penerbit Pedati: Pasuruan
Tanpa Pengarang, 2002, Bulan Sabit: Rabindranath Tagore, Bentang Pustaka: Yogyakarta.
Purwantari, B.j., 2006, Penulis India Menjadikan Dunia Manusiawi, artikel dalam KOMPAS: Jakarta.
Ricklefs, M. C., 1994, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada Press: UGM Yogyakarta.
www.wikipedia.com.Rabindranath.
Sekadar Pengantar
Di salah satu sudut Surakarta, ada sebuah jalan bernama Rabindranath Tagore. Tapi sayangnya, penulisan nama pada jalan tersebut menunjukkan kesalahan besar. Tertulis Jalan Rabrin Dranath Tagore, dengan tambahan huruf R pada dan pemenggalan nama antara Rabrin dan Dranath. Fenomena kecil itu menunjukkan korelasi besar. Pertama, betapa pamongpraja yang menulis nama jalan tersebut tidak mengetahui sejarah dan abai pada detil-detil pentingnya. Kedua, betapa besar pengaruh Rabindranath Tagore sehingga namanya dipakai sebagai salah satu nama jalan di kota Surakarta.
Biasanya, nama-nama jalan besar di kota besar, menggunakan nama pahlawan lokal atau nasional. Tapi, untuk jalan yang satu itu, nama Rabindranath Tagore justru dipilih untuk diabadikan sebagai nama jalan. Apa yang membuat namanya sampai mendunia? Dan mengapa penting, nama Tagore diabadikan sedemikian rupa?
Rabindranath Tagore lahir di Bengali pada 7 Mei 1861. “Tagore” adalah sebutan internasional dari kata Thakur. Jadi, ketika seorang penonton film India menyebut nama “Tuan Thakur,” sesungguhnya nama itu mendunia berkat sumbangan Tagore pada manusia. Salah satu sumbangannya adalah ide dan inspirasi pendidikan yang diabadikan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam sekolah Taman Siswa. Ide dasar Taman Siswa sesungguhnya diilhami oleh pusat pendidikan yang di dalamnya Tagore banyak berperan, Santhiniketan, India. Tagore sendiri pernah melawat ke Indonesia, tepatnya ke Surakarta, dan berkawan baik dengan Ki Hadjar Dewantara. Mungkin peristiwa itu yang menjadi salah satu alasan adanya Jalan Rabindranath Tagore di Solo.
Tagore adalah orang Asia pertama yang menerima anugerah hadiah Nobel Sastra dari Akademi Swedia. Pada 1913, saat hadiah itu diberikan, ia tak bisa datang, dan hanya berkirim telegram singkat yang dibacakan di depan khalayak yang begitu penasaran pada dirinya. “Sanjungan saya pada Akademi Swedia yang penuh apresiasi dan pemahaman yang telah membawa kedekatan atas jarak yang terbentang. Dan telah menjadikan seorang asing (seperti saya) sebagai saudara.” (Lihat, www.wikipedia.com)
Begitu susah menyebut identitas Tagore dalam satu kata atau satu definisi saja. Ia seorang brahma, tapi ia juga penyair. Ia seorang filsuf, sekaligus dramawan tradisional yang penuh inspirasi dan kebijakan. Ia seorang musikus dan sastrawan Bengali yang sangat besar. Di India dan Bangladesh, bagi masyarakat Hindu, namanya sudah menjadi seperti nama nabi. Itu semua karena kearifan mendalam yang terdapat di berbagai karya sastranya. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah Gitanyali, yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam banyak versi (Purwantari, 2006: 10).
Ia adalah anak bungsu dari 14 bersaudara. Ayahnya, Debendranath Tagore adalah pemimpin sekte Hindu yang sangat besar dan disegani di Bengali. Saat usianya 11 tahun, sang ayah menyelenggarakan Upayanam, sebuah upacara yang menandakan seorang laki-laki memasuki usia Brahmacari atau masa menuntut ilmu. Setelah itu, bersama sang ayah, Tagore berkeliling India.
Dimensi Ontologis dan Epistemologis Pemikiran Tagore
”Hidup di dunia hanya sekali, cinta sejati hanya sekali, karena mati pun hanya sekali” (kutipan dari salah satu karya Rabindranath Tagore). Ia mengedepankan bahwa individu harus bersatu dengan alam. Tagore berkata; orang banyak berkonsentrasi belajar dari buku dan melupakan utk belajar dari alam bebas yg sebenarnya lebih kaya, alam terkembang jadi guru (Alam sebagai realitas utama – kosmologis atau Tuhan Imanen didalamnya). Hampir sama dengan Gandhi, Tagore meyakini bahwa kebenaran harus digali dan bersumber pada subjek atau pribadi yang otonom. Pembentukan karakter individu yang bebas dan mandiri harus dibentuk melalui sistem pendidikan yang berbasis pada kondisi riil masyarakat dan berbasis pada alam.
Titik Pijak Konsep Pendidikan Tagore
Mereka mengunjungi Santhiniketan, terus ke Amritsar sebelum akhirnya sampai ke Dalhousie di kaki Gunung Himalaya. Perjalanan pada jalan cerita tokoh-tokoh ternama, Seperti Che Guavera atau Mohandas Gandhi, menjadi sangat penting dan menentukan jalan hidup mereka. Perjalanan itu tak saja membuka mata dan pengetahuan, tapi juga pemahaman yang mendalam tentang arti dunia.
Berkelana mempertemukan Rabindranath Tagore dengan Mahatma Gandhi. Keduanya bersahabat menentang British Raj, dan saling bantu membangun Gerakan Kemerdekaan India. Tagore dan Gandhi adalah dua pemimpin besar India yang pemikirannya berpengaruh melebihi batas-batas teritorial sebuah negara. Banyak para intelektual membandingkan dua pemikiran tersebut. Salah satunya adalah Jawaharlal Nehru yang menulis dari dalam penjara Inggris pada 1941 (dalam buku Bulan Sabit; Rabindranath Tagore):
“Gandhi and Tagore. Two types entirely different from each other, and yet both of them typical of India, both in the long line of India’s great men ... It is not so much because of any single virtue but because of the tout ensemble, that I felt that among the world’s great men today Gandhi and Tagore were supreme as human beings. What good fortune for me to have come into close contact with them.”
Kakeknya, Dwarkanath Tagore, adalah seorang ilmuwan terpandang yang menguasai bahasa Arab, juga Parsi. Kombinasi itu pula yang menyumbang kearifan pada Rabindranath muda. Pengetahuan Sansekerta digabung dengan pemahaman Islam yang ditularkan oleh sang kakek, ditambah juga dengan literatur Persia yang kaya filsafat, membuat pemikirannya begitu mendalam dan berpengaruh.
Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi yang juga dari India, pernah memberikan komentar tentang itu. “Pemahaman Rabindranath atas Sanskrit, Hindu Kuno, Islam dan Persia, membuatnya terdorong untuk melahirkan, atau setidaknya menghasilkan sintesis ajaran agama dari agama-agama yang berbeda dari seluruh dunia,” katanya.
Dalam buku-bukunya, yang kurang lebih 200 judul, memang kental terasa suasana yang menjembatani nilai-nilai antaragama di dunia. Terlebih lagi usahanya menciptakan garis penghubung antara Barat dan Timur. Kemanusiaan, bisa jadi adalah “agama” yang dijunjung tinggi oleh Tagore dalam hidupnya. Tak peduli Barat atau Timur, kemana pun wajah dihadapkan, kemanusiaan harus dijunjung luhur.
Seketika membuat saya teringat pada sebuah buku kuno yang ditulis oleh Rabindranath Tagore yang diterjemahkan oleh Mr. Mohammad Yamin, berjudul Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga. Ketika pertama kali diterbitkan oleh Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K Djakarta 1955, harganya hanya Rp. 16,- saja. Tapi isinya sungguh luar biasa. Tokoh-tokoh dalam novel itu bernama Nikhil, Bimala dan Sandip, sebuah cerita tentang pencarian arti cinta.
Di India, Rabindranath Tagore (1861-1941) mendirikan Shanti Niketan, sebagai perlawanan terhadap pendidikan kolonial Inggris yang hanya ingin menciptakan rakyat jajahan yang penurut dan sedikit ‘terpelajar’. Sekolah kolonial pun menjadi alat efektif untuk menyaring orang-orang India berbakat untuk mengisi jajaran birokrasi kolonial. Anak didik dijauhkan dari bahasa dan tradisinya sendiri, dan dipaksa mengikuti disiplin dan cara berpikir kolonial Inggris. Mereka yang lulus dan akhirnya mendukung sistem itu, dikenal dengan sebutan Anglicist, adalah pembela utama sistem kolonial secara keseluruhan, dan menganggap penindasan kolonial sebagai hal yang patut diterima oleh rakyat India yang ‘tak beradab’ (Badru, 2003: 35).
Tagore memulai kegiatannya dalam situasi itu. Baginya rakyat tak punya pilihan lain kecuali mengembalikan kepribadian rakyat India pada akar tradisinya sendiri. Ia membangun proses pendidikan menyeluruh, dimulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi yang bertolak dari pengalaman para siswa. Sementara dalam pendidikan kolonial anak-anak hanya menjadi obyek dari para guru dan pengambil keputusan, di Shanti Niketan anak-anak diberi keleluasaan mengembangkan diri dan berlaku sebagai subyek pendidikan.
Pendidikan Sebagai Gerakan: Kesamaan India – Indonesia Masa Kolonial
Di Indonesia, pendidikan sejak awal dianggap bagian penting dari perjuangan melawan penguasa kolonial. Pikiran itu berkembang setelah timbul kesadaran bahwa kolonialisme mungkin bertahan bukan hanya karena keserakahan dan kejahatan penguasa kolonial, tapi juga karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan rakyat untuk melawan. Sejak akhir abad ke-19 berdiri sekolah-sekolah particulier (swasta) yang diselenggarakan oleh rakyat, karena sistem pendidikan kolonial hanya memberi kesempatan kepada mereka yang mampu dan ‘berguna’.Secara umum penguasa kolonial tak peduli pada nasib pendidikan bumiputra. Para pejabatnya lebih sibuk menyebar intel untuk meredam gerakan nasionalis ketimbang menyalurkan dana untuk pendidikan. Sekolah-sekolah particulier pada awalnya dibiarkan berkembang bebas, dan dipandang sebelah mata saja.
Adalah van der Meulen, direktur pendidikan pemerintah kolonial yang pertama memberi perhatian serius. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Fock, ia menguraikan bahaya dari sekolah particulier yang menyebar nilai-nilai anti-kolonial. Maksudnya tidak lain dari sekolah-sekolah yang dibuka oleh Sarekat Islam pimpinan Tan Malaka dan sekolah-sekolah Tionghoa yang sedang gandrung menyebarkan nilai-nilai gerakan pembebasan di Tiongkok. Sebagai reaksi pada tahun 1921 pemerintah mengumumkan Ordonansi No. 134 yang juga dikenal dengan sebutan Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie). Dalam keputusan itu pemerintah mewajibkan setiap guru untuk melapor dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggarnya (Rickleffs, 1994: 20).
Lima tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan Ordonansi No. 260 yang memerintahkan guru-guru menutup semua ‘sekolah liar’ karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Semua sekolah yang berhaluan nasionalis menjadi sasaran, dan penindasan pun semakin hebat setelah terjadinya pemberontakan rakyat di Jawa dan Sumatera pada tahun 1926-27. Tidak banyak sekolah yang bisa bertahan, dan salah satunya adalah perguruan Taman Siswa, yang didirikan 1922 di Yogyakarta. Sementara kaum terpelajar menjadi sasaran represi dan sekolah-sekolah ditutup, Taman Siswa terus bergerak dan tumbuh menjadi lembaga pendidikan terpenting dalam perjuangan nasionalis. Pimpinannya seorang priyayi, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat – kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara – dikenal sebagai tokoh nasionalis yang tajam (Ibid, hlmn 21).
Menjadi bagian dari pergerakan adalah kunci keberhasilan Taman Siswa. Sementara guru-guru bumiputra yang mengajar di sekolah kolonial menolak dan bahkan mengecamnya, di banyak tempat rakyat justru meminta sekolah itu didirikan. Di tengah represi dan pengawasan intel kolonial, Taman Siswa menggelar konperensi besar pertama tahun 1923. Agenda utamanya adalah menetapkan prinsip dasar dan perluasan organisasi. Perguruan yang semula hanya membuka Kindergarten dan sekolah guru itu pun mulai nampak sebagai sebuah gerak kebudayaan yang merambah di berbagai daerah.
Konsep Pendidikannya
Tagore mendirikan sekolah yg khas, dg metode yg mencerahkan dan memberikan kemandirian pada murid 2 nya. dikenal dg nama Shanti Niketan -- kini menjadi universitas besar di India dengan nama Visva Barathi University) yg artinya tempat tinggal yg damai, sebuah sekolah yg khas dg budaya lokal dan sesuai kebutuhan masyarakat umum saat itu,berbeda dg sekolah2 yg didirikan oleh penjajah Inggris.
Konsep Sekolah Shanti Niketan Tagore cukup sederhana, belajar dg duduk di atas rumput dinaungi pohon yg rindang , tapi pelajaran nya sangat bermakna dan membekas di murid2 nya (saat ini telah diikuti oleh konsep sekolah alam yang kini telah ada di beberapa kota di Indonesia: ciganjur jkt, parung bogor, bandung dan surabaya).
Kurikulum sederhana: diajarkan hal-hal atau keahlian yg sesuai dg keperluan dan kondisi penduduk lokal setempat, dikembangkan berdasar kearifan lokal (local genius), bersahabat dg alam, ketrampilan praktis dll, sehingga mereka yg lulus dari sekolah tsb, benar2 bisa memanfaatkan ilmunya pada kehidupan sehari hari masyarakat setempat (Problem Possing education kalau kita merujuk Paulo Freire). Tagore ingin mengubah Sistem pendidikan kolonial: karena anak rakyat tanah jajahan menjadi ‘manusia beradab’ sesuai ukuran penguasa kolonial. Sebagai perlawanan terhadap pendidikan kolonial Inggris yang hanya ingin menciptakan rakyat jajahan yang penurut dan sedikit ‘terpelajar’.
Tagore gusar melihat sekolah kolonial menjadi alat efektif untuk menyaring orang-orang India berbakat untuk mengisi jajaran birokrasi kolonial. Anak didik dijauhkan dari bahasa dan tradisinya sendiri, dan dipaksa mengikuti disiplin dan cara berpikir kolonial Inggris. Mereka yang lulus dan akhirnya mendukung sistem itu, dikenal dengan sebutan Anglicist, adalah pembela utama sistem kolonial secara keseluruhan, dan menganggap penindasan kolonial sebagai hal yang patut diterima oleh rakyat India yang ‘tak beradab’.
Tagore memulai kegiatannya dalam situasi itu. Baginya rakyat tak punya pilihan lain kecuali mengembalikan kepribadian rakyat India pada akar tradisinya sendiri. Ia membangun proses pendidikan menyeluruh, dimulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi yang bertolak dari pengalaman para siswa. Sementara dalam pendidikan kolonial anak-anak hanya menjadi obyek dari para guru dan pengambil keputusan, di Shanti Niketan anak-anak diberi keleluasaan mengembangkan diri dan berlaku sebagai subyek pendidikan.
Menjadi bagian dari pergerakan adalah kunci keberhasilan Taman Siswa. Sementara guru-guru bumiputra yang mengajar di sekolah kolonial menolak dan bahkan mengecamnya, di banyak tempat rakyat justru meminta sekolah itu didirikan. Di tengah represi dan pengawasan intel kolonial, Taman Siswa menggelar konferensi besar pertama tahun 1923. Agenda utamanya adalah menetapkan prinsip dasar dan perluasan organisasi. Perguruan yang semula hanya membuka Kindergarten dan sekolah guru itu pun mulai nampak sebagai sebuah gerak kebudayaan yang merambah di berbagai daerah (mirip dengan Shanti Niketan Tagore). Shantiniketan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam sistem pelaksanaan pendidikan di Pondok Gontor selain Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Alighar di India.
Penutup
Bagi Tagore:
1. pendidikan adalah sebuah proses membawa seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan jati diri, terlebih jati diri kemanusiaan, karena hakikat dan pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi)
2. Pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang membebaskan manusia untuk selalu sadar akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Sebuah proses pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas sosial, bukan pendidikan yang malah menjauhkan manusia atau peserta didik dari kenyataan hidup yang ada.
3. pendidikan hadap-masalah, merupakan salah satu alternatif agar peserta didik mampu memahami realitas sosial yang senyatanya. Peserta didik akan selalu dibenturkan dengan problem-problem kongkret dan aktual yang ada, untuk selanjutnya berupaya menganalisis menggunakan pisau analisis atau sudut pandang yang sesuai guna ditemukannya pemecahan yang komprehensif.
4. Konsep Pendidikan Tagore ingin memberikan peserta didik bekal untuk memahami kehidupan dan bukan hanya pendidikan yang berorientasi bagi pemenuhan bekal “penghidupan” an sich.
Daftar Pustaka
Badru, Ahmad., 2003, Telaah Kritis Rabindranath Tagore, Penerbit Pedati: Pasuruan
Tanpa Pengarang, 2002, Bulan Sabit: Rabindranath Tagore, Bentang Pustaka: Yogyakarta.
Purwantari, B.j., 2006, Penulis India Menjadikan Dunia Manusiawi, artikel dalam KOMPAS: Jakarta.
Ricklefs, M. C., 1994, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada Press: UGM Yogyakarta.
www.wikipedia.com.Rabindranath.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar for this post