Selamat Datang!

KONSEPSI TENTANG TUHAN DAN MASALAH IMMORTALITAS JIWA : SEBUAH DISKURSUS YANG TAK KUNJUNG USAI

By Alif Lukmanul Hakim on 09.14

Filed Under:

Oleh : Alif Lukmanul Hakim, S. Fil 

Sekadar Pengantar

Kepercayaan kepada Tuhan, dalam berbagai bentuk dan variannya, telah mendapat tempat yang sangat penting dan substansial dalam kepercayaan agama dan kehidupan manusia. Bentangan kesejarahan manusia telah menunjukkan begitu bergantungnya manusia terhadap sesuatu di luar diri dan jangkauannya dalam lingkup kehidupan mereka. Kebergantungan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, menurut tingkat kemajuan intelektual dan kondisi kultural, sosiologis, antropologis serta geografis dimana manusia berada. Mulai dari hanya sekadar mitos-mitos atau takhyul sampai kepada konsepsi-konsepsi agama yang lebih dapat diterima oleh akal dan berkesesuaian dengan ajaran agama yang bersangkutan.
Dalam membicarakan tentang atau kepercayaan kepada Tuhan, ada tiga hal yang jangan sampai terlupakan oleh kita. 1) Kita harus membedakan antara Tuhan dan ide tentang Tuhan. Manusia sebagai Animal Sybolicum menggunakan simbol-simbol dalam segala dimensi kehidupannya, dan simbol akan berubah karena adanya perkembangan intelektualitas manusia dan pengetahuannya. Tetapi jika seseorang mengatakan jika Tuhan itu ada dan bereksistensi, hal ini berarti bahwa ide tentang Tuhan bukan hanya ide yang terdapat dalam pikiran manusia akan tetapi menunjukkan sesuatu Dzat yang real, yang ada dan tidak bersandar kepada apapun yang ada di dunia ini. 2) Manusia telah menyembah Tuhan sebelum munculnya doktrin dan persoalan-persoalan filsafat tentang Tuhan. Ketika manusia menemukan kelompok-kelompok masyarakat lain yang mempunyai ide dan konsepsi tentang Tuhan yang berbeda dengan konsepsinya, maka akan timbul perdebatan dalam dirinya manakah konsepsi tentang Tuhan yang yang paling benar? Dari sinilah mulai muncul tesis dan antitesis baru tentang konsepsi Tuhan yang saling bersinggungan seiring perkembangan pengetahuan dan kecerdasan manusia dalam bingkai kesejarahan manusia tentunya. 3) Tidak adanya pandangan atau ide tentang Tuhan yang paling benar dan valid, atau dengan kata lain tidak ada finalitas atau argumentasi yang memadahi dalam menghadirkan kosepsi tentang Tuhan. Yang ada adalah kebenaran-kebenaran yang sifatnya parsial dan temporal dan menuju kepada Kebenaran Mutlak (dalam K besar) atau kebenaran Ilahiah.

Pembahasan 
I. Perbincangan Seputar Sifat-sifat Tuhan dan Konsepsi tentang Tuhan
A. Sifat Tuhan sebagai Person. 
Berbicara tentang Tuhan sebagai Person berarti masuk kepada terminologi Theisme atau keprcayaan kepada Tuhan yang bersifat person, yang menciptakan dunia dan berpartisipasi secara imanen dalam proses-proses alam. Jadi ada hubungan “Aku” dan “Kamu” antara Tuhan dan mahluknya. Monotheisme dan Polytheisme adalah varian dari Theisme.

B. Sifat Tuhan yang transenden atau paham Deisme.
Sifat Tuhan yang memberikan izin kepada alam untuk bertindak dan berjalan tanpa adanya campur tangan atau partisipasi Tuhan setelah Ia menciptakannya. Tuhan ibarat seorang pembuat jam. Aliran atau konsepsi tentang Tuhan ini begitu digandrungi oleh orang-orang pada abad ke-18 yang menekankan transendensi Tuhan (Titus, Smith, Nolan, 1984: 467).
C. Sifat Tuhan yang bereksistensi secara total atau Pantheisme.
Tuhan dianggap berada dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu berada didalam Tuhan. Pantheisme mungkin bersifat personal atau non-personal. Eksistensi total adalah realitas yang mengandung segala sesuatu (Titus, Smith, Nolan, 1984: Ibid. Hlm. 467).
D. Tuhan itu baik dan bertindak baik atau Beneficent
Percaya kepada Tuhan menunjukkan keyakinan manusia bahwa ada kebaikan abadi. Jika ada yang disuruh memilih antara memberi definisi Tuhan sebagai Yang Baik dan Yang Maha Kuasa, mereka yang disuruh memilih tentunya akan meilih yang pertama. Yakni, bahwa Tuhan itu Maha Baik. Dengan begitu maka orang akan merasa bahwa Tuhan berjuang dengan kita dan untuk kita (Ibid. Hlm. 467).

II. Sebab-sebab Tidak Percaya Kepada Tuhan

A. Adanya kejahatan dan ketidakadilan di dunia telah menjadi rintangan bagi kepercayaan akan konsep Tuhan Yang Maha Baik dan konsep tentang Tuhan dan keagamaan lainnya.
B. Alasan Mendasar lainnya bagi ketidakpercayaan akan Tuhan adalah keyakinan bahwa kepercayaan hanya merupakan hasil dari pikiran harapan atau proyeksi manusia saja (wishful thinking) – dalam bahasa Titus, Nolan, Smith – dan kebiasaan yang ada dan terjadi dalam masyarakat manusia.
C. Rintangan lain untuk mempercayai adanya Tuhan adalah kenyataan faktawi bahwa kata Tuhan hanyalah ekspresi bahasa atau simbol dan bahkan asumsi semata yang telah kehilangan arti dan makna apalagi telah kehilangan daya pikatnya pada kehidupan mansuia modern yang sangat positivistik dan mekanistik-reduksionistik.

Penutup
Immortalitas Jiwa : Kelangsungan Hidup Setelah Mati
Diskursus mengenai ada atau tidak adanya kehidupan setelah mati telah menghiasi bingkai kesejarahan manusia semenjak dahulu kala. Apakah ada kehidupan setelah mati – atau dengan kata lain apakah ada kehidupan yang abadi? – merupakan pertanyaan yang memang belum dapatdijawab secara tuntas oleh manusia. Dalam teologi kristiani dan teologi Islam sangatlah penting dan perlu untuk mempercayai adanya kehidupan setelah mati yang bersifat abadi (Kenny, Anthony, 2003: 3. Terjemahan Fakhruddin Faiz).
Kepercayaan terhadap hidup personal sesudah mati mungkin mengandung beberapa arti : 1) Arti biologi, sosial, atau hidup kembali secara personal atau impersonal. 2) Pandangan keagamaan Barat dicontohkan oleh sikap setuju dari agama Yahudi, Kristen dan Islam terhadap kelangsungan hidup personal setelah mati. Tentunya kesemuanya akan kembali lagi kepada kita selaku manusia yang bebas untuk memilih untuk percaya atau tidak percaya. Fastabiiqul Khairaat.

DAFTAR PUSTAKA


Asy’arie, Musa. 1999. Filsafat Islam : Sunnah Nabi dalam Berpikir. Yogyakarta: LESFI.

Hammersma, Harry. 1986. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia.

Kenny, Anthony. 2003. Bertuhan ala Filsuf. Diterjemahkan oleh Fakhruddin Faiz. Yogyakarta: Qalam.

Solomon, Robert. C., Kathleen M. Higgins. 2002. Sejarah filsafat. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta: Bentang.

Syarif, M.M., 1993. Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan.

Titus, Smih, Nolan. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Diterjemahkan oleh H.M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang.


0 komentar for this post