Selamat Datang!

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN

By Alif Lukmanul Hakim on 09.23

Filed Under:

Alif Lukmanul Hakim, S. Fil

Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan terus menerus sepanjang hidup dari keadaan tidak tahu akan sesuatu menjadi tahu akan sesuatu, serta dari keadaan belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu. Pendidikan mempunyai arti yang sama dengan Education dalam bahasa Inggris, yang berasal dari bahasa latin Educare, yang berarti memimpin keluar. Sehingga dapat dikatakan pendidikan adalah sebuah proses membawa seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan jati diri, terlebih jati diri kemanusiaan, karena hakikat dari pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi).

Pendidikan mempunyai peran dan posisi yang signifikan dalam kehidupan manusia. Keberlangsungan proses pendidikan, meliputi transfer ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia – bahkan transfer ideologi – terajut dan terjalin dalam rentang peradaban dan kehidupan manusia. Keberlangsungan proses ini menjadi dalil argumentatif dan affirmatif signifikansi pendidikan bagi peradaban.

Sejalan dengan terus bergulirnya waktu, roda peradabanpun terus berputar dan meniscayakan kita untuk selalu menemukan formulasi yang tepat dalam menjawab dan menyikapi tantangan peradaban yang mengemuka dihadapan kita. Peradaban manusia tidak pernah tidak, dan malah niscaya, akan selalu dipengaruhi oleh mainstream yang berkembang dalam pendidikan. Paradigma pendidikan apa yang akan atau sedang mendominasi dunia pendidikan sangat mempengaruhi arah dan gerak laju serta maju mundurnya suatu peradaban. Itulah hebatnya pendidikan, yang merupakan proses penyadaran (consientization) dan pembudayaan (culturation) – meminjam terminologi Paulo Fraire – yang berjalan terus-menerus demi mewujudkan sebuah peradaban dan tatanan kehidupan kemanusiaan yang lebih adil. Pendidikan akan menjadi diskursus tandingan (counter discourse) terhadap diskursus atau wacana yang menghegemoni dan menindas, agar arus perubahan selalu terjaga dan terjadi dalam segala aspek kehidupan manusia.

Pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang membebaskan manusia untuk selalu sadar akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Sebuah proses pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas sosial, bukan pendidikan yang malah menjauhkan manusia atau peserta didik dari kenyataan hidup yang ada. Disinilah signifikansi sebuah paradigma dalam pendidikan. Paradigma pendidikan transformatif, yang mengarahkan manusia untuk senantiasa menyadari bahwa dirinya sedang mengalami transformasi terus-menerus (learning to be) dan untuk selalu “menjadi sesuatu” (becoming to), sangat signifikan keberadaannya. Meminjam terminologi Paulo Freire, konsep Problem Possing Education atau pendidikan hadap-masalah, merupakan salah satu alternatif agar peserta didik mampu memahami realitas sosial yang senyatanya. Peserta didik akan selalu dibenturkan dengan problem-problem kongkret dan aktual yang ada, untuk selanjutnya berupaya menganalisis menggunakan pisau analisis atau sudut pandang yang sesuai guna ditemukannya pemecahan yang komprehensif.

Selama ini, tradisi atau pola pendidikan gaya bank (Banking System Education) menjadi patokan dan rujukan dalam proses pendidikan yang kita jalankan. Peserta didik menjadi robot-robot atau mesin-mesin hasil ciptaan bagi kepentingan industrialisasi dan ujung-ujungnya kepentingan pasar dan kapitalisme global. Pendidikan bukannya menjadi pembentuk kesadaran kritis bagi peserta didik, justru malah menjadi proses dan praktek dehumanisasi yang hampir menggerus dan mencabik-cabik nilai-nilai universal kemanusiaan. Pendidikan kita adalah pendidikan yang berkiblat pada pola developmentalisme ekonomi – pembangunanisme dalam istilah Orde Baru – yang berakibat sangat fatal dan ekses negatifnya kita rasakan sekarang ini. Bangsa kita menjadi bangsa yang bermental hipokrit, berkesadaran yang semu dan bersifat imitatif.

Beragam permasalahan di atas berusaha untuk kita temukan jawabannya. Namun, bukan jawaban dan penyelesaian kita dapatkan, malah bertumpuk-tumpuk masalah baru mendera. Apa sebabnya? Kita belum mampu mengkonstruksi sebuah sistem pendidikan nasional yang berangkat dan bertumpu lewat pondasi paradigma pendidikan yang mantap dan kompatibel dengan kondisi sosiologis, antropologis, geografis, dan kultural Indonesia. Kita butuh paradigma yang mampu membawa bangsa kita maju dan berkembang melalui sebuah sistem dan proses pendidikan yang transformatif, humanis, egaliter dan demokratis serta berkeadilan.

Karena itu, kita perlu melakukan upaya penggalian sejarah material tentang sejarah pendidikan bangsa kita untuk kemudian kita rekonstruksi dan kontekstualisasikan dengan konteks kekinian bangsa kita. Konteks global sangat kita perlukan guna memperoleh bangunan paradigmatik yang kuat dan mantap bagi sistem pendidikan kita. Oleh karena itu pendidikan harus mampu mencetak sumber daya manusia yang transformatif dan terjamah segi afektif, kognitif dan psikomotoriknya sebagai bekal dalam menghadapi tantangan global yang mengemuka. Pendidikan yang memberikan bekal untuk memahami kehidupan dan bukan hanya pendidikan yang berorientasi bagi pemenuhan bekal “penghidupan” an sich.

Last but not least, pendidikan harus terlepas dari belenggu dan keharusan untuk menciptakan dan menghasilkan manusia-manusia yang menjadi mesin dan robot bagi kepentingan industri dan modal. Tetapi pendidikan harus jauh berorientasi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang secara kualitatif mampu melakukan transformasi secara aktif dan progessif dalam beragam level dan tingkatan masyarakat secara konsisten dan komprehensif. Sebuah proses pendidikan yang emansipatoris atau membebaskan akan menjadi kenyataan dan bukan angan tak berujung. Semoga.

Alif Lukmanul Hakim
Dosen pada Fakultas Psikologi dan Program D3 Ekonomi UII serta Akademi Manajemen Putra Jaya Yogyakarta. Mahasiswa Program Magister S2 Filsafat UGM. Kolumnis dan Peneliti Komunitas Muda Madju Setapak Indonesia (KOMMPAK)


0 komentar for this post