Selamat Datang!

Dialektika Ilmu dan Organisasi Dalam Pramuka

By Alif Lukmanul Hakim on 08.49

Filed Under:

Oleh: Alif Lukmanul Hakim, S. Fil

KITA bayangkan organisasi adalah sebuah wadah. Wadah, secara ukuran bisa kecil bisa pula besar bergantung pada kuantitas di dalamnya. Itu jika wadah sebagai sebuah benda atau alat. Namun, organisasi lebih dari sekadar wadah. Ia menampung orang-orang. Organisasi memiliki jiwa atau spirit, karakter, jati diri, sejarah, kisah suka dan duka, cita-cita, hingga harapan. Begitupun organisasi Gerakan Pramuka.

Bagi kita yang sekarang hendak mengarungi jenjang pendidikan selanjutnya, sudah tidak asing lagi karena sejak SD atau SMP dikenalkan dengan berbagai organisasi intra sekolah. Berorganisasi, dengan demikian, seharusnya menjadi pilihan. Jika pun pilihan karena terpaksa seperti saat SMP, pada kantong baju sebelah kiri kita terjahit logo OSIS, atau saat SD kita dengan berat hati, merasa malas ikut Pramuka pada setiap akhir minggu.... Mau bagaimana lagi? Paling tidak kita tahu kemudian, semua pernak-pernik tersebut bermanfaat di kemudian hari. Termasuk manfaat mengarungi pernak-pernik dalam berpramuka.

Mungkin para guru kita dahulu beranggapan, organisasi-organisasi di atas penting, dan pasti ada kegunaannya di kemudian hari. Orang tua kita di rumah pun mengamini semuanya ini karena beliau yang telah mafhum dan kenyang dengan asam garam kehidupan. Orang tua beranggapan sama dengan pihak sekolah, berorganisasi penting karena anaknya dapat bersosialisasi dan berinteraksi lebih banyak dengan kawan-kawannya di luar pelajaran sekolah. Berorganisasi sekaligus memupuk keterampilan, bekal hidup kemudian hari. Mungkin. Sama halnya dengan anak-anak usia SD, SLTP, maupun SMA yang saat ini aktif dalam Gerakan Pramuka di daerahnya masing-masing. Orang tua mereka pun pasti memiliki pendapat yang sama.

Kita secara alamiah adalah seorang organisatoris. Kita semua dilahirkan sebagai seorang pemimpin; Kullukum ra’ain, wa kullukum masu`ulun ‘ar-ro`iyyatihii (Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya akan apa yang dipimpinnya). Pasti, paling tidak bagi diri sendiri. Bagaimanapun bentuk fisik kita, organ tubuh adalah organisasi yang sempurna. Kita harus bersyukur memiliki kepala, dua tangan, perut, dua kaki, dan organ tubuh lainnya. Masing-masing memiliki fungsi dan kegunaan. Tidak ada yang lebih berguna dari yang lainnya. Satu bagian tubuh saya sakit, yang lain pun turut merasakan. Organisasi ibarat tubuh manusia; kepala adalah ketua, perut mewakili sosok bendahara, sedangkan tangan dan kaki sebagai pelaksana. Semuanya penting, sebagai alat kita mencapai tujuan.

Harus tertanam dalam sanubari Anda --saya, diri Anda, adalah pemimpin diri sendiri. Dengan kemampuan manajerial diri sendiri, kita juga mengaplikasikan fungsi-fungsi manajemen secara alamiah bukan? Kita mempunyai rencana-rencana, mengerahkan semua sumber daya yang kita miliki untuk merealisasikannya. Ada yang berhasil meski tidak sedikit juga yang gagal. Akan tetapi yang pasti kita semua sadar telah melaluinya. Dapatkah Anda bayangkan bahwa beraktivitas adalah berkreasi dengan kesadaran (self-consciousness)?

Hal yang sama juga berlaku dalam organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan. Kesamaannya itulah yang menyebabkan masing-masing individu, yang pastinya berbeda, mau bergabung dan menjadi anggotanya. Kesamaan yang disebabkan kepentingan yang sama, cita-cita, dan tujuan bersama. 

Ketika Anda dewasa, bergabung menjadi anggota organisasi tertentu --seperti Gerakan Pramuka-- tidak lagi sebuah paksaan. Anda bebas memilih, ingin bergabung atau tidak. Untuk memilih organisasi yang tepat, Anda harus tahu apakah cita-cita, harapan, kebutuhan Anda sejalan dengan organisasi tersebut? Pada titik inilah diperlukan ilmu. Ya, ilmu! Namun bukan ilmu pengetahuan layaknya yang kita pelajari di sekolah atau pendidikan formal belaka. Ilmu formal --kita bahasakan saja demikian-- berperan sangat signifikan sebagai bekal untuk terjun di dunia organisasi.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat, Jawa Barat


0 komentar for this post