Selamat Datang!

SKEPTISISME, SUBJEKTIVISME DAN RELATIVISME ”Sebuah Catatan Kecil”

By Alif Lukmanul Hakim on 09.32

Filed Under:

Oleh : Alif Lukmanul Hakim, S. Fil

Fakta tentang adanya kekeliruan yang tidak hanya menimpa mereka yang awam, tetapi juga para pakar dalam bidangnya, sungguh merupakan hal yang amat mengusik pikiran dan menimbulkan teka-teki. Kalau para pakar dalam bidangnya saja dapat keliru, bukankah sudah sewajarnya kalau setiap klaim kebenaran itu selalu pantas diragukan? Benarkah bahwa kebenaran kepengetahuan itu memang bersifat subjektif sebagaimana dianut oleh aliran subjektivisme? Kalau keterlibatan subjek penahu tidak terhindarkan dalam kegiatan manusia mengetahui, bukankah kebenaran manusia itu selalu bersifat relatif? (Sudarminta, 2002 : 46).

I. Skeptisisme

Problem pengetahuan itu telah melahirkan banyak sekali aliran yang mengemukakan pendapat dan ajarannya mengenai pengetahuan, kebenaran dan kepastian. Pertumbuhan epistemologi dibentuk oleh terjadinya banyak konflik dan benturan teoretikal mengenai hal-hal tersebut (Pranarka, 1987 : 97). Selain itu, sudah menjadi keyakinan kita bersama, bahwa salah satu topik kajian epistemologi adalah penyelidikan tentang hakikat dan ruang lingkup pengetahuan yang dimiliki manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh J. Sudarminta di atas, bahwa salah satu alasan utama yang telah mengilhami para filsuf dalam menyelidiki hakikat dan ruang lingkup pengetahuan manusia adalah fakta adanya kekeliruan. Adanya fakta ini – masih menurut J. Sudarminta – memiliki ambiguitas, yakni di satu sisi keberadaannya menjadi sesuatu yang meresahkan, di sisi lain menimbulkan teka-teki. Meresahkan, karena apakah kita masih dapat keliru setelah dengan sangat teliti mengerjakan sesuatu hal? Apalagi para peneliti, yang nota bene telah melakukan pekerjaannya dengan sangat teliti dan hati-hati, pun masih dapat melakukan kekeliruan? Hal lainmuncul dari problematika ini adalah kenyataan bahwa mereka yang disebut ”pakar” pun seringkali tidak bersepakat dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah serta yang betul atau keliru. (Sudarminta, 2002 : 46) 

Skeptisisme merupakan suatu bentuk aliran yang perlu untuk kenal dan diperhatikan secara seksama, karena skeptisisme adalah satu-satunya aliran yang secara radikal dan fundamental tidak mengakui adanya kepastian dan kebenaran itu, atau sekurang-kurangya skeptisisme menyangsikan secara mendasar kemampuan pikiran manusia untuk memperoleh kepastian dan kebenaran pengetahuan. Meragukan klaim kebenaran atau menangguhkan persetujuan atau penolakan terhadapnya berarti bersikap skeptis. Istilah skeptisisme berasal dari kata Yunani skeptomai yang secara harfiah berarti ”saya pikirkan dengan saksama” atau saya lihat dengan teliti”. Kemudian dari situ diturunkan arti yang biasa dihubungkan dengan kata tersebut, yakni ”saya meragukan”. (Sudarminta, 2002 : 47). Secara etimologis, skeptisisme berasal dari kata bahasa Yunani, skeptomai, artinya memperhatikan dengan cermat, meneliti. Para skeptis pada awalnya adalah orang-orang yang mengamati segala sesuatu dengan cermat serta mengadakan penelitian terhadapnya. 

Skeptisisme sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Seringkali banyak kepercayaan, yang dianggap benar, kemudian ternyata salah. Apakah yang menjadikan kepercayaan itu benar atau salah? Apakah kita dapat merasa pasti bahwa kita talah mengungkapkan kebenaran? Apakah akal manusia dapat mengungkapkan atau menemukan pengetahuan yang benar? (Titus, et. al., 1984 : 231).

Skeptisisme dapat juga diartikan sebagai pernyataan ragu-ragu atau pengingkatan. Dalam arti sempit skeptisisme adalah pengingkaran tentang kemungkinan mengetahui, sedankan dalam arti luas adalah sikap menunda pertimbangan sampai analisis yang kritis selesai dan bukti bukti yang mungkin diperoleh sudah terdapat (Ibid., hlm. 251).

Macam-macam Skpetisisme, diantaranya adalah skeptisisme mutlak atau skeptisisme universal dan skeptisisme nisbi atau skeptisisme partikular. Skeptisisme mutlak atau universal secara mutlak mengingkari kemungkinan manusia untuk tahu dan untuk memberi dasar pembenaran. Jenis skeptisisme yang mengingkari sama sekali kemampuan manusia untuk tahu dan meragukan semua jenis pengetahuan macam ini dalam prakteknya jarang diikuti orang, sebab dalam kenyataannya mustahil untuk dihayati. Bahkan, kaum skeptik di zaman Yunani kuno di atas yang kadang disebut sebagai penganut skeptisisme mutlak, rupanya masih mengecualikan proposisi mengenai apa yang tampak atau langsung dialami dari lingkup hal yang diragukannya. Skeptisisme mutlak dalam prakteknya jarang diikuti karena memang suatu posisi yang sulit dipertahankan. Posisi ini secara eksistensial bersifat kontradiktif dan berlawanan dengan fakta yang eviden (langsung tampak jelas dengan sendirinya). Mengapa secara eksistensial bersifat kontradiktif? Karena, seperti sudah ditunjukkan oleh Socrates dalam wawancara polemisnya dengan kaum sofis, seorang skeptisis secara implisit (dalam praktek) menegaskan kebenaran dari apa yang secara eksplisit (dalam teori) diingkarinya. Sedangkan skeptisisme nisbi atau partikular tidak meragukan segalanya secara menyeluruh. Varian ini hanya meragukan kemampuan manusia untuk tahu dengan pasti dan memberi dasar pembenaran yang tidak diragukan lagi untuk pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu saja. Paham skeptisisme nisbi ini, walaupun tidak bersifat menggugurkan diri sendiri (self-defeating) sebagaimana skeptisisme mutlak, namun biasanya dianut karena salah paham tentang ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia dan kebenarannya.

Tiga Ujian tentang Kebenaran
Semua bukti harus dimulai dengan asumsi atau postulat yakni ide-ide atau fakta yang sudah diangap benar, dalam kacamatan sains, filsafat, dan agama. Selain itu ada terdapat tiga batu uji yang palin utama tentang kebenaran, yaitu Teori korespondensi, Teori koherensi, dan teori pragmatis. Teori korespondensi adalah ujian kebenaran yang diterima secara luas oleh kelompok realis. Teori ini mengatakan bahwa kebenaran adalah persesuaian antafra pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri. Teori koherensi atrau konsistensi adalah ujian kebenaran yang pada umumnya diterima oleh kaum idealis. Suatu pertimbangan itu benar jika ia konsisten dengan pertimbangan yang lain yanhg telah diterima kebenarannya. Sedangkan teori pragmatis meyakini bahwa ujian kebenaran adalah manfaat, kemungkinan dilakukan, dan akibat-akibat yang memuaskan. Tak ada kebenaran yang statis atu mutlak. Suatu teori adalah benar jika ia berfungsi dalam praktek.

II. Subjektivisme
Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan – dalam pemikiran-pemikiran mereka- bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri da n kegiatan kita yang kita sadari. Paling tidak, hal itulah yang secara langsung dapat kita ketahui. Sedangkan pengetahuan tentang ”yang bukan aku” atau segala sesuatu di luar diri sendiri, pantas diragukan kepastian kebenarannya. Telah menjadi suatu ironi, ketika usaha keras Descartes untuk menolak dan membantai skeptisisme malah mengakibatkan pembelokan ke arah subjektivisme dalam filsafat. Subjektivisme adalah pandangan bahwa objek dan kualitas yang kita ketahui dengan perantaraan indera kita adalah tidak berdiri sendiri, lepas dari kesadaran kita terhadapnya. Realitas terdiri atas kesadaran serta keadaan kesadaran tersebut, walaupun tidak harus kesadaran kita dan keadaan akal kita (Titus, et. al. 1984: 218). Untuk menjelaskannya, cobalah kita jadikan mimpi dan halusinasi sebagai contoh. Dimanakah benda-benda yang kita lihat dalam mimpi itu berada?di dunia luar kita, atau berada dalam pengalaman pribadi kita yang subjektif?Apakah watak mimpi itu?Karena sebagian mimpi itu nampak seolah-olah nyata dan benar-benar terjadi. Contoh lain halusinasi. Nah, ketika kita menerima subjektivitas pengalaman-pengalaman seperti mimpi, halusinasi dan khayalan, kita telah melangkah ke arah subjektivisme. Subjektivisme dapat dikatakan juga sebagai egocentric predicament (pemikiran yang didasarkan atas pengalaman diri sendiri-Ralph Barton Perry) Selain itu coba kita bicarakan pula solipsisme(solus; sendiri, ipse; diri : merupakan reductio ad absordum dari subjektivisme, yakni akibat terakhir yang tidak masuk akal. 

Empat aturan pokok Filsafat Descartes
Descartes membuat semacam aturan (rule) pokok yang harus ditaati dalam metodenya, berdasarkan apa yang saya sarikan dari Frederick Copleston, A History of Philosophy Volume III, New York: Doubleday, 1993, page. 293. yaitu: 
1. Intuisi dan evidensi
2. Perincian/pelarutan
3. Pendeduksian
4. Penginduksian
Aturan yang pertama, intuisi dan evidensi, ia menyampaikan berbagai argumentasi, yakni
a. Tidak mau menerima begitu saja apa yang dianggap benar
b. Berusaha menghindari ketergesa-gesaan atau praduga
c. Hanya apa yang tersajikan secara jelas dan bernas dalam pikiran sajalah yang dapat diterima, karena tidak ada keraguan lagi (clear and distinct)
d. Hal di atas hanya dapat dilakukan melalui intuisi: langsung, simpel, self-evident
e. Itulah pengertian mutlak menurut Descartes ( Kriterium definitif) bagi segala hal
f. Pengertian yang jelas dan bernas/terpilah-pilah (clara et distincta;clear and distinct)
Aturan yanhg kedua, perincian dan pelarutan, yakni
a. Membagi-bagi persoalan yang diteliti menjadi bagian-bagian sebanyak mungkin
b. Pengertian yang baru harus didasarkan pada pengertian yang telah lebih dahulu diketahui secara clear and distinct
c. Jadi, harus ada pertautan antara pengertian yang baru dan pengertian yang lebih dulu
d. Intinya, pengertian-pengertian tersebut harus berjalin-kelindan
Aturan yang ketiga, pendeduksian, demi keruntutan berpikirnya Descartes memulai gerak laju pikirnya dari hal-hal sederhana dan mudah menuju hal-hal yang lebih kompleks dan relatif. Dan dari yang simpel dan absolut ke yang makin kompleks. Jadi, bertahap dan berangsur-angsur (Umum ke khusus). Ini bukan semata-mata urutan langkah-langkah metafisik (ordo essendi), melainkan semata-mata urutan metodologis (ordo cognoscendi)
Aturan yang keempat, penginduksian atau enumerasi, yakni
a. Descartes tidak puas dengan Aturan I, II, III, melainkan malah mengontrolnya dengan aturan yang keempat :
b. Yakni dengan mengadakan pembilangan/penyebutan (enumeration)pda setiap hal secara komprehensif dan meninjau kembali secara umum, sehingga muncul keyakinan bahwa tidak ada sesuatu hal yang terlewatkan.
c. Langkah ini menjadi ”aspek induktif” metode Descartes, dan menjadi semacam ”verifikasi” yaitu pemeriksaan terkahir apakah pengetahuan yang clear and distinct telah diperoleh.
Ternyata, pandangan subjektivisme – terutama pasca Descartes -- menelurkan berbagai akibat cukup signifikan bagi dialektika selanjutnya.
Beberapa asumsi paradigma Cartesian-Newtonian
Ada 6 macam asumsi paradigma Cartesian-Newtonian yang dapat dilihat, yakni: 
1. Subjektivisme-Antroposentristik
Dalam hal ini, manusia dipandang sebagai pusat dunia. Descartes melalui pernyataanya cogito ergo sum, mencetuskan kesadaran subjek yang terarah pada dirinya sendiri, dan ini adalah basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal di luar diri si subjek. Selain itu, subjektivisme ini juga tampak pada pandangan Francis Bacon mengenai dominasi manusia terhadap alam. Letak subjektivisme Newton ada pada ambisi manusia untuk menjelaskan seluruh fenomena alam raya melalui mekanika yang dirumuskan dalam formula matematika.
2. Dualisme
Pandangan mengenai dualisme ini tampak pada pemikiran Descartes. Dalam hal ini, realitas dibagi menjadi subjek dan objek. Subjek ditempatkan sebagai yang superiortas atas objek. Dengan ini, manusia (subjek) dapat memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia. Subjek pun dapat mengukur objek tanpa mempengaruhi dan tanpa dipengaruhi oleh objek. Paham dualisme ini kemudian mempunyai konsekuensi alamiah dimana seolah-olah “menghidupkan” subjek dan “mematikan” objek. Hal didasarkan pada pemahaman bahwa subjek itu hidup dan sadar, sedangkan objek itu berada secara diametral dengan subjek, sehingga objek haruslah mati dan tidak berkesadaran.
3. Mekanistik-deterministik
Alam raya dipandang sebagai sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa dan statis. Malahan, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek lalu dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia. 
Dalam pandangan mekanistik ini, realitas dianggap dapat dipahami dengan menganalisis dan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil dari penyelidikan terhadap bagian-bagian yang kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Dengan demikian, keseluruhan itu berarti sama atau identik dengan penjumlahan atas bagian-bagiannya. 
Pandangan yang deterministik juga tampak pada sikap dimana alam sepenuhnya itu dapat dijelaskan, diramal, dan dikontrol berdasarkan hukum-hukum yang deterministic (pasti) sedemikan rupa sehingga memperoleh kepastian yang setara dengan kepastian matematis. Dengan kata lain, masa depan suatu system, pada prinsipnya dapat diprediksi dari pengetahuan yang akurat terhadap kondisi system itu sekarang. Prinsip kausalitas pada dasarnya merupakan prinsip metafisis tentang hukum-hukum wujud. Determinisme ini juga didukung oleh Laplace. Ia mengatakan bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan setiap partikel di alam semesta, kita akan dapat/sanggup memprediksi semua kejadian pada masa depan. 
4. Reduksionis
Dalam hal ini, alam semesta hanya dipandang sebagai mesin yang mati, tanpa makna simbolik dan kualitatif, tanpa nilai, tanpa cita rasa etis dan estetis. Paradigma ini memandang alam raya ( termasuk di dalamnya realitas keseluruhan) tersusun/terbangun dari balok-balok bangunan dasar materi yang terdiri dari atom-atom. Perbedaan antara materi yang satu dengan lainnya hanyalah soal beda kuantitas dan bobot. Selain itu, pandangan reduksionis ini berasumsi bahwa perilaku semua entitas ditentukan sepenuhnya oleh perilaku komponen-komponen terkecilnya.
Pada jaman phytagoras maupun Plato, matematika itu mempunyai symbol kualitatif. Namun pada masa modern ini, matematika hanya dibatasi pada soal numeric-kuantitatif, unsure-sunsur simbolik ditiadakan. 

5. Instrumentalisme
Focus pertanyaan di sini adalah menjawab soal ‘bagaimana’ dan bukan “mengapa”. Newton bersikukuh dengan teori gravitasi karena ia sudah dapat merumuskannya secara matematis meskipun ia tidak tahu mengapa dan apa penyebab gravitasi itu. Yang lebih penting menurutnya adalah dapat mengukurnya, mengobservasinya, membuat prediksi-prediksi berdasarkan konsep itu, daripada soal menjelaskan gravitasi. 
Modus berpikir yang instrumentalistik ini tampak pada kecondongan bahwa kebenaran suatu pengetahuan atau sains itu diukur dari sejauh mana hal itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan/kepentingan material dan praktis. Semuanya diarahkan pada penguasaan dan dominasi subjek manusia terhadap alam. 
6. Materialisme-saintisme
Saintisme adalah pandangan yang menempatkan metode ilmiah eksperimental sebagai satu-satunya metode dan bahasa keilmuan yang universal sehingga segala pengetahuan yang tidak dapat diverifikasi oleh metode tersebut dianggap tidak bermakna. Pada Descartes, Tuhan itu bersifat instrumentalistik karena sebagai penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Pada Newton, Tuhan hanya diperlukan pada saat awal pencitpaan. Tuhan menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan antar partikel, hukum gerak dasar, dan sesudah tercipta lalu alam ini terus bergerak seperti sebuah mesin ayng diatur oleh hukum-hukum deterministic. 
Bagi kaum materialis, pada prinsipnya setiap fenomena mental manusia dapat ditinjau dengan menggunakan hukum-hukum fisikal dan bahan-bahan mentah yang sama, yang mampu menjelaskan fotosintesis, nutrisi, dan pertumbuhan. 

III. Relativisme
Relativisme epistemologis merupakan suatu paham yang mengingkari adanya dan dapat diketahuinya kebenaran yang objektif dan universal oleh manusia. Sebaliknya, paham ini mengajarkan bahwa kebenaran yang ada dan yang dapat diketahui oleh manusia adalah kebenaran yang bersifat relatif. Relatif terhadap subjek yang bersangkutan, terhadap masyarakat dan budaya tertentu, terhadap paradigma yang dipakai, dan sebaginya (Sudarminta, 2002: 55). Relativisme terkait dengan kemajemukan budaya dan kemajemukan pandangan hidup dan berdasar pada kekhasan dan perbedaan yang terdapat dalam masyarakat. Ada beberapa macam relativisme, yakni :
a. Relativisme Subjektif, Jenis yang pertama ini praktis sama dengan subjektivisme.
b. Relativisme Budaya, tidak ada kebenaran objektif dan universal, karena kebenaran pengetahuan manusia selalu relatif dan tidak terlepas terhadap kebudayaan tempat pengetahuan itu berasal atau dikembangkan. Pengetahuan, dalam perspektif relativisme budaya ini, berarti selalu bersifat lokal (local knowledge) Penentuan benar dan salah terhadap pengetahuan yang berasal dari suatu konteks sosial dan budaya tertentu dilakukan melalui upaya kontekstualisasi dan yolok ukurnya ditentukan berdasar kesepakatan sosial dalam masyarakat.
c. Relativisme kontekstual, relativisme ini mendasari relativisme budaya. Menurut kaum relativisme kontekstual benar dan salah itu tidak ada ukuran objektif dan universal, melainkan relatif dan bergantung kepada bingkai konseptual (conceptual framework) yang dipergunakan.

Kesimpulan
(1) Kepastian mutlak tentang kebenaran seluruh pengetahuan kita memang tidak mungkin, sebab manusia adalah mahluk contingent dan fallible. Tetapi ini tidak berarti bahwa semua pengetahuan manusia pantas dan perlu diragukan kebenarannya. Maka, skeptisisme mutlak pantas ditolak.
(2) Subjek berperan aktif dalam kegiatan mengetahui dan tidak hanya bersifat pasif menerima serta melaporkan objek apa adanya. Tetapi ini tidak berarti bahwa pengetahuan manusia selalu bersifat subjektif. Maka, subjektivisme radikal juga pantas disangkal
(3) Pengetahuan manusia memang bersifat relasional dan kontekstual, tetapi itu tidak berarti bahwa objektivitas dan universalitas pengetahuan menjadi tidak mungkin. Maka, pelbagai bentuk relativisme epistemologis, walaupun punya sumbangan yang berharga, merupakan suatu pandangan tentang pengetahuan yang tidak bisa diterima.

Daftar Pustaka

Copleston, Frederick., 1993. A History of Philosophy Volume III, New York: Doubleday.
Sudarminta, J., 2002. Epistemologi Dasar. Yogyakarta: Kanisius.
Pranarka, A.M.W., 1987. Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Proklamasi CSIS.
Titus, et. al., 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Terj. H.M. Rasjidi. Jakarta : Bulan Bintang.


0 komentar for this post