Selamat Datang!

Frankenstein (Seputar Dependensi dan Otonomi Manusia) : Filsafat dan Makna Kehidupan

By Alif Lukmanul Hakim on 08.45

Filed Under:

Alif Lukmanul Hakim, S. Fil

Semuanya berawal dari sebuah ambisi tentang usaha untuk menjawab misteri kematian yang dialami manusia dan mahluk hidup lainnya. Victor Frankenstein berkeyakinan bahwa “tragedi” kematian yang dialami manusia dan mahluk hidup lainnya – yang menjadikan manusia takut “tidak hidup lagi” alias mati – dapat diatasi dengan kemampuan sains untuk menghidupkan kembali “mereka” yang telah mati agar berkesempatan untuk “hidup lagi.” Pada dasarnya hal ini berkaitan erat dengan problem absurditas dan makna kehidupan bagi manusia. Masalah indeterminisme atau kebebasan manusia (free will) bertabrakan dengan determinisme (takdir) yang telah digariskan oleh Tuhan. Victor merasa bahwa manusia memiliki wilayah kebebasan yang sangat mutlak ketika ia mampu berkolaborasi dengan kemajuan sains. Alhasil, ia mulai melakukan eksperimen untuk membuktikan keyakinannya itu. Bahwa “yang telah mati” dapat menjadi “hidup lagi” melalui kolaborasi kepintaran atau intelektualitas manusia dan kemajuan sains.
FRANKENSTEIN si Monster, pada dasarnya adalah tubuh bekas. Tubuh ini dirakit secara sembarangan oleh Victor Frankenstein, yang bahkan lebih buruk dari Betsy Ross, dari berbagai tubuh pencuri, pembunuh, para pencundang. Sebagai hasil dari sejumlah tubuh bekas ini si monster mendapati bahwa dirinya memiliki penampilan yang sebenarnya tidak diinginkan serta kecenderungan dan kecondongan yang tidak dapat dia jelaskan. 
 Selain berbagai warisan yang kurang memuaskan ini, si monster dengan cepat mendapati dirinya terperangkap dalam lingkungan yang kejam dan tidak ramah. Paling untung dihindari orang, atau paling sial menjadi bulan-bulanan dan dicerca. Semata-mata karena sosoknya (tampilan luarnya). Padahal jauh di dalam hatinya dia sama sekali bukan sosok kejam, pada tahap ini: dia justru lembut dan baik hati, meskipun sosoknya jelek.
 Frankenstein adalah sosok monster yang peka, yang tentu saja akan kesal saat – tiba di sebuah pedesaan dan disitu dia berusaha sebaik-baiknya membantu keluarga petani yang memiliki kakek tua yang buta dan seorang anak perempuan yang manis, namun sebagai konsekuensi logis dari wajah buruknya-- petani malah mengambil kapak dan berusaha menghajarnya habis-habisan. Disamping peka, Frankenstein juga sangat cerdas. Terbukti dari upayanya untuk memahami mengenai perincian asal-usulnya dan mulai menghubung-hubungkan semuanya. Percakapan antara anak perempuan dan ibu petani mengenai kelahiran begitu mengusiknya. Frankenstein berusaha membuka-buka buku yang ada di kantung jas panjangnya. Sampai di sini dia berhadapan dengan sebuah The Journal of Victor Frankenstein, yang pada akhirnya sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mulai berkembang di benaknya. Namaku adalah Frankenstein dan ayahku bernama Victor. Lalu, muncullah ketidakjelasan-ketidakjelasan akan makna kehidupan (dan juga kematian) serta problematika baru yang diakibatkan oleh “lahirnya” seorang manusia monster “Frankenstein.” 
Berbicara mengenai manusia adalah berbicara mengenai berbagai bentuk pertanyaan yang abadi. Manusia merupakan mahluk yang dilengkapi dengan akal dan pikiran, yang membedakan dirinya dengan mahluk yang lain. Manusia dapat menggunakan kemampuan pikirnya untuk memikirkan segala sesuatu “yang ada.” Hal ini dapat dilihat dari tulisan Harold H. Titus,dkk. Dalam buku Persoalan-persoalan Filsafat :

“ Hampir seluruh persolan penting dalam filsafat, psikologi, agama dan urusan sehari-hari, mengandung persoalan watak manusia. Kebanyakan ahli pikir Yunani purba dan ahli pikir Abad Pertengahan sampai periode Pencerahan pada abad ke-18, mempunyai asumsi bahwa memang ada sesuatu yang dinamakan “watak manusia” , sesuatu, yang dalam pembicaraan filsafat, membentuk “essensi manusia”. Memang terdapat perbedaan jawaban : “essensi manusia seperti apa” akan tetapi terdapat kesepakatan bahwa memang ada sesuatu yang menjadikan manusia berbeda dengan yang bukan manusia.” (1984:29).

Pada awalnya manusia enggan untuk memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan diri manusia sendiri. Pemikiran manusia pada awalnya hanya tertuju pada bentuk pemikiran di bidang kosmologis, dimana dari pemikiran kosmologis tersebut telah melahirkan berbagai bentuk pengetahuan mengenai alam semesta. Pemikiran mengenai pengetahuan kealaman tersebut pada awalnya hanya didasarkan pada suatu bentuk mitos, sebagaimana kita ketahui bersama, fase ini terjadi dalam rentang waktu peradaban Yunani kuno sekitar abad ke-6 sebelum Masehi.
 Pemikiran manusia yang belum berani mempertanyakan dirinya sendiri, merupakan tantangan tersendiri. Manusia-manusia Yunani kuno pra-Socrates sampai kepada penemuan unsur-unsur kosmologis sebagai prinsip induk (arche) atau unsur pembentuk utama alam semesta. Dalam perjalanan selanjutnya, manusia-manusia pasca Yunani kuno telah mulai meletakkan manusia sebagai objek bahkan “subjek” dalam filsafat. Telah adanya “kesadaran” dalam diri manusia yang membuat manusia mampu untuk mengoptimalkan pemikirannya. Bentuk kesadaran yang ada dalam diri manusia ini adalah kemampuannya untuk mampu mempertanyakan diri dan segala sesuatu “yang ada” (Tuhan, manusia dan alam semesta) dalam bingkai kesadaran reflektif, dimana manusia telah mencapai kesadaran penuh sebagai struktur dasar dari realitas. 
Pada dasarnya, secara umum, manusia menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karena persoalan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu tertentu ataupun latar belakang kesejarahan dan kultural tertentu. Persoalan ini menyangkut tata hubungan antara dirinya sebagai mahluk pribadi yang otonom dengan realitas lain, diluar dirinya, yang menunjukkan bahwa manusia merupakan mahluk yang bersifat dependen atau memiliki ketergantungan. Persoalan lain yang mengemuka adalah menyangkut realitas bahwa manusia merupakan mahluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tidak memiliki perbedaan secara signifikan dengan mahluk lain – binatang dan tumbuhan – seperti makan dan minum, kebutuhan biologis-seksual, ingin diperhatikan dan sebagainya. Manusia juga memerlukan kebutuhan jasmaniah yang secara inheren melekat didalamnya kebutuhan ruhaniah, yakni rasa aman, cinta dan kasih sayang serta sifat-sifat kemanusiaan lainnya, yang pada sisi ini membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Manusia juga menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan (interest) diri; rahasi diri (secret), kepentingan pribadi bahkan kebutuhan untuk sendiri atau berada dalam kesendirian, namun tidak dapat dinafikan pula bahwa manusia tidak dapat hidup – meminjam terminologi salah seorang dosen Fakultas Filsafat UGM; Heri Santoso – secara “soliter” melainkan harus “solider”, yang merupakan bukti bahwa manusia hidup dan menjalani kehidupannya mutlak harus bersanding dengan sesamanya.
Muncul setidak-tidaknya dua kutub ekstrim dalam menjawab permasalahan yang pertama, yakni antara akan adanya otonomi atau “kebebasan” mutlak yang dimiliki manusia, sebagai implikasi logis dari paham indeterminisme atau Free Will. Faktisitas-faktisitas yang muncul dalam kehidupan manusia, seperti faktor genetika, skill-kemampuan, habitat-lingkungan dan lainnya menurut pandangan kaum eksistensialis bukanlah merupakan komponen perusak eksistensi manusia sebagai mahluk yang otonom, melainkan “malah” menjadi faktor penentu dari kebebasan manusia. Pada kutub yang lain muncul aliran determinisme, yang sangat bersifat fatalistik, yang menganggap seluruh hidup dan kehidupan manusia bersifat given dan sudah ditentukan semuanya oleh Tuhan, dengan kata lain seluruh nasib dan takdir kita sudah diatur oleh Tuhan, yang suka maupun tak suka kita harus menjalaninya. Keduanya, indeterminisme dan determinisme, ternyata tidak mampu memberi solusi dan pemecahan yang ideal bagi permasalahan-permasalahan yang telah dipaparkan diatas, karena keduanya memiliki kelemahan yang sangat mendasar bagi ditemukannya “misteri” jawaban akan dependensi dan kebebasan manusia dengan otonominya. Pada satu sisi manusia manusia merupakan mahluk dengan segenap keterbatasan dalam dirinya, disisi lain ia harus memepertanggungjawabkan segala keputusan dan tindakan yang diambilnya. Sebuah tanggung jawab tak dapat dituntut apabila tak ada pengandaian akan adanya kebebasan dalam menentukan keputusan tindakan yang diambil tersebut bukan?
Persoalan kedua bernasib sama ketika manusia memilih menghadapkan secara vis a vis antara menempatkan jasmani sebagai ukuran, sehingga manusia mengejar kenikmatan an sich, dalm hal ini memunculkan hedonisme. Argumentasi lainnya menganggap jasmani adalah “kotor” dan “buruk” bahkan “hina” sehingga ia tak memiliki makna apapun (meaningless) bagi kehidupan manusia. Sedangkan persolan ketiga berada pada dua kutub individualisme dan altruisme. Keduanya – individualisme dan altruisme -- menjadi kajian yang signifikan bagi problem keadilan, dimana hak dan kewajiban sebagai inti problem keadilan dan hubungan kemanusiaan menemukan akar permasalahnnya.
 Jawaban yang dirasakan cukup memadahi bagi problem-problem diatas adalah adanya “proses transendensi manusia”. Proses transendensi merupakan pengejawantahan dua kutub diatas ; Dependensi merupakan faktor yang tak dapat dielak dan ditolak, karena manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan juga, sama dengan ciptaan-Nya yang lain. Namun harus dipahami bahwa dependensi manusia harus disertai dengan kesadaran aktif , untuk terus berusaha dan berikhtiar. Sedangkan otonomi atau kebebasan manusia merupakn faktor pembeda -- yang bersifat signifikan – antara manusia dengan mahluk lainnya. Jadi dependensi manusia harus terangakat ke dalam otonominya, dependensinya bukanlah sebuah keterbatasan mutlak melainkan “bingkai referensi” dari keluasan otonomi dan kebebasannya. Puncak dari transendensi bukan kebebasan yang tak berbatas, melainkan keterbatasan akan dirinya dan penemuan akan kebenaran Ilahiah. Manusia berkewajiban mengangkat dimensi jasmaniahnya menuju tingkat rohani, guna menemukan makna terdalam dalam hidupnya. Martabatnya – sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia -- menjadi menemukan arti dan makna ketika ia mengembangkan keterbatasan jasmaniahnya ke tingkat ikhtiari atau refleksi rohaninya.  

DAFTAR PUSTAKA

Bakker, Anton. 2000. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius.

Hadi, P. Hardono. 1996. Jati Diri Manusia : Berdasar Filsafat Organisme Whitehead. Yogyakarta: Kanisius.

Kenny, Anthony. 2003. Bertuhan Ala Filsuf. (Terj.) Penerjemah: Fakhruddin Faiz. Yogyakarta: Qalam.

Rowlands, Mark. 2004. Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction. Bandung: Mizan.

Siswanto, Joko. 1998. Sistem-sistem Metafisika Barat: dari Aristoteles sampai Derrida. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Titus, Dkk. 1984. Living Issues in Pholosophy.(terj.) H.M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang.




1 komentar for this post

Bagus,bagus,
liat punya tth juga ya,
http://ginakamelina.blogspot.com
enggak sekumplit punya dede sih....
soalnya masih baru
makanya ntar d2 kasih masukan ya buat blog tth

Posted on 23 Oktober 2008 pukul 18.16